cagar budaya

Vihara Dhanagun, vihara tertua di kota Bogor. Sebagai bangunan tertua, banyak dikunjungi para wisata relius, untuk menyaksikan langsung bangunan yang dipercaya sudah berusia lebih 300 tahun, yang hingga kini masih kokoh. Vihara terletak di Jl Suryakencana No 1, Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Dengan mematuhi protokol kesehatan (PROKES), agar terlindung dari wabah COVID 19, saya diijinkan untuk memasuki vihara ini.

Di depan terdapat gapura pintu masuk, setelahnya kita akan menyaksikan dua patung singa di antara pintu utama. Ornamen-ornamen lampion yang khas Tionghoa dapat kita jumpai di sana.

Lokasi kawasan sekitar vihara dikenal sebagai kawasan pecinan kota Bogor. Kawasan tersebut banyak dihuni etnis Tionghoa yang sudah membaur dengan penduduk asli kota Bogor. Vihara ini, juga dikenal sebagai Vihara Hok Tek Bio yang merupakan cagar budaya yang dilindungi keberadaanya. Sebagai cagar budaya, vihara ini juga digunakan untuk kegiatan keagamaan tiga kepercayaan sekaligus, Konghucu (konfusianisme), Taoisme dan Budha. Kegiatan tersebut menambah khasanah kerukunan umat beragama.

Salam Budaya
Rahayu

SEDERHANA ITU INDAH

Kehidupan di era millenium, orang mencari sesuatu yang sederhana. Bila kesederahaan itu terjadi secara alami, orang akan kagum menyaksikan kesederhanaan. Tidak sedikit orang mencari ketenangan bathin dari hiruk-pikuk kehidupan, maka, tidak sedikit pula orang refresing ke tempat-tempat yang alami dan sederhana.

Wisata desa Baduy

Suku Baduy merupakan masyarakat adat dan sub-etnis dari suku Sunda di wilayah pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Baduy belum terpengaruh modernisasi atau kelompok yang hampir sepenuhnya terasing dari dunia luar. Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung, Banten, Indonesia.

Kesibukan perempuan suku Baduy, dalam keseharian. Di jaman serba teknologi suku Baduy, terkenal sulit, bahkan tidak mau menerima bantuan dengan teknologi untuk membuat tepung besar, apa lagi pada suku Baduy dalam. Suku Baduy, terbagi menjadi dua, yaitu Baduy dalam dan Baduy luar. Baduy dalam sangat dijaga (protective), untuk mencapai sampai di sana memerlukan waktu tempuh dengan jalan kaki bisa mencapai 7 jam perjalanan dengan jalan kaki (tidak ada kendaraan). Sedangkan Baduy luar, sudah sangat terbuka untuk umum, masyarakatnya juga sudah membuka diri, namun tetap dijaga keasliannya.

Menenun, adalah aktivitas rutin seperti masak dan mengasuh anak suku pada perempuan suku Baduy. Dengan alat tenun sederhana, alat komunikasi sederhana (kenthongan dari bambu), perempuan Baduy tidak mudah meninggalkan pekerjaanya. Sehingga ia harus selalu di tempat kerjanya dengan dibantu oleh keluarganya. Dengan kenthongan, ia akan memanggil keluarganya.

Di beranda rumah, dengan latai bambu, anak suku Baduy yang tertidur di sebuah ayunan yang diikat dengan kain dari bawah atap rumah.

Rumah panggung adalah ciri has suku Baduy. Menggunakan lantai bambu, dinding dari bambu, tiang dari kayu dan atap dari daun kelapa. Semua didapat dari alam sekitarnya.

Perempuan suku Baduy dengan kostum dan kain buatan sendiri.

Menjadi sederhana itu tidak sederhana, apa lagi ketika status strata kehidupan terpola hidup di kota.Harus brani mengendalikan diri dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari.

Guru sejati

Guru yang tidak memiliki gelar, tidak mau di bayar, sebagai murid/siswanya pun tidak pernah dijanjikan untuk diberi ijasah/sertifikat bahkan juga gelar. Ironisnya, karena semua itu, kini Ia ditinggalkan. Di era millenium yang serba transaksional, masih ada sosok guru itu? Kalau masih ada, siapa yang mau jadi muridnya/siswanya?

Gambar berikut merupakan ilustrasi wayang, bagi penggemar wayang tidak asing lagi.

Dahyang Durna

Dahyang Durna, masa mudanya bernama Kumbayana. Ia berasal dari Atasangin, beroman bagus, banyak ilmu, sakti dan memiliki kemampuan terbang tanpa sayap. Dengan kesaktiannya, ia ingin menyusul saudaranya Bambang Sucitra, yang telah lebih dahulu pergi dari negaranya.

Karena kepongahan/kesombongannya, di perjalanan tepi pantai ia tidak dapat terbang. Maka diapun bersumpah, barang siapa yang bisa menolong ku, jika laki-laki akan dijadikan saudara, jika perempuan akan dijadikan istri. Saat itu, tibalah pertolongan, datanglah kuda perempuan bersayap, Kumbayana dalam waktu singkat diantar sampai tujuan.

Singkat cerita. Kuda perempuan bersayap itu melahirkan anak laki-laki yang ternyata Kumbayana adalah ayah dari anak yang baru dilahirkan dari kuda bersayap. Anak tersebut, diberinama Bambang Aswatama. Setelah melahirkan kuda berubah wujud menjadi Dewi Wilutomo, ia kembali ke kahyangan. Dan Bambang Kumbayana dengan anaknya, melanjutkan perjalanan menemui Bambang Sucitra.

Kumbayana, bertemu dengan saudaranya. Di sana ia diterima sebagai pendeta dengan nama begawan Druna, nujum, penasehat raja dan guru untuk korawa dan pandawa. Begawan Druna digambarkan bermata kriyibpan (berkejab-kejab) berhidung mungkal gerang, seperti batu asalahan mengerut, nenandakan dagu orang tua. Berjenggot, berkain bentuk repekan pendeta. Hanya tangan belakangnya yang bisa digerakkan. tangan yang lainnya memegang tasbih. Bercelana cindai dan bersepatu. Dalam perang baratayuda begawan Druna, memihak pada korawa, di mana dia diterima dan dibesarkan oleh raja. Diakhir cerita, begawan Druna berhadapan dengan pandawa muridnya sendiri, ia kalah dalam peperangan.

Guru sejati “mursyid”

Cubit tangan kiri menggunakan jari tangan kananmu sekeras mungkin. Apa yang terjadi? Apa yang kau rasakan? Carilah orang yang paling pintar dari pucuk gunung hingga tepian pantai hingga seluruh muka bumi. Tanyakan tentang rasa sakit itu. Masih belum yakin?

Apa yang Anda suka? Makan bakso, tambahkan bumbu-bumbu sesuai selera, setelahnya minum es buah. Apa Anda rasakan? Nikmat bukan?

Dono weweh (bahasa jawa) memberi dengan rasa ikhas kepada orang yang tepat, dari apa yang kita miliki (sedekah). Engkau akan merasakan nikmat bathin, begitu juga si penerima. Tanyakan pada gurumu, bila ia dapat menjawab itu dengan baik dan benar, maka dialah gurumu. Kepadanya harus berguru.

Tanpa disadari, bahwa setiap orang punya “Guru”, tempat orang belajar mencari dan menggali kepandaian “mursyid”. “Mursyid” istilah guru terpandai bagi setiap pribadi manusia. Harus disadari bahwa, “Mursyid” di sini jangan dibayangkan dengan seperti begawan Druna, dianggap orang suci.

“Mursyid” biasanya banyak digunakan untuk nama seseorang untuk anak laki-laki, tapi dalam hal ini bukan itu yang dimaksud. “Mursyid”, adalah orang pandai dan cerdas, bisa memberi petunjuk bukan sekedar baik dan buruk, baik, tapi juga benar dan bijak. Dari kepandaian dan kecerdasan yang dimiliki, karena itu, ia tau semua tentang dirimu. Paham semua apa yang kau rasakan, fikirkan, dan semua masalahmu. Lantas, siapa sosok itu?

Adalah “DIRIMU SENDIRI.” Yang tau, apa yang terjadi dimasa lalu mu, apa yang terjadi sedang terjadi, apa yang sedang difikirkan sekarang dan apa yang sedang diRASAkan. Gambaran singkatnya, waktu tangan dicubit, waktu makan bakso, ikhalas pada saat dono weweh (sedekah) dan lain sebagainya. Hanya dirimu yang dapat menjawab secara komprehensif dari apa yang kau RASA-kan. Dan, guru/”mursyid” akan mengendalikan semua itu pada dirimu, “di atas langit ada langit, jangan sombong.”

Sedangkan orang di luar sana, terkait dari apa yang baru saja kau lakukan, saat ditanya dia hanya akan menjawab tidak lebih dari sudut pandang dan cara pandangnya saja. Hanya sang guru sejati/”mursyid” yang ada dalam dirimu yang memberikan pengajaran, pengalaman hingga pada penjiwaan yang terbaik.

Mursyidmu itulah, gurumu yang sejati, gurumu paling dekat, guru yang tidak pernah menyesatkan, gurumu yang paham siapa leluhurmu/budayamu, gurumu yang tak pernah bohong/menipu, gurumu yang apa adanya, gurumu yang mengajarkanmu utk lebih baik kedepan, gurumu yang tak pernah menjelek-jelekkan org lain, gurumu yang paling amat mengerti siapa dirimu, gurumu yang amat menyayangimu, gurumu yang tak pernah meminta imbalan, gurumu yangg selalu menemanimu kapan saja dan dimana saja.

Ironis sekali, kau kejar ilmu sampai ke ujung dunia, guru sejatimu itu, kini kau LUPAKAN, KAU ABAIKAN, dan tak pernah kau KENALI. Apapun ilmu yang kau dapati dari berbagai orang di luar sana, kebanyakan hanya sebatas “KULIT” luarnya saja.

Ilmu, sebelum kau bisa mengetahui “RASANYA”, maka ilmu yang kau dapat itu belum “SEMPURNA!.” Terminologinya adalah ketika kau lihat buah dan kenal dengan buah mangga dengan warnanya hijau, baunya harum, hanya itu yang kau ketahui “KULIT.” Sebelum kau mengecap “RASA MANGGA” itu, maka pengetahuanmu tentang mangga itu “BELUM SEMPURNA”.

Hanya “dirimu sendiri” yang tau bila sudah memakannya sehingga dapat merasakan rasa asam atau manisnya buah mangga. Meskipun satu mangga dicicipi banyak orang, tapi rasa yang engkau pribadi dapati sendiri, “ITULAH YANG PALING BISA DIPERCAYA.”

Berikut ini adalah cuplikan wayang kulit dari pertunjukan semalam sutuk. Berawal dari Werkudoro yang disuruh oleh begawan Druna, untuk mencari “banyu suci perwita sari” (air suci perwita sari). Karena Begawan Druna memihak keluarga korawa, maka disuruhlah Wrekudara untuk mencari air suci perwitasari mulai dari pucuk gunung hingga dasar laut, agar dia dimangsa oleh binatang buas atau tenggelam di laut. Karena keyakinan yang kuat, maka ia pun ahkirnya bertemu dengan jatidirinya.

Pertemuannyapun melalui proses panjang, dia harus naik gunung, turun jurang, masuk hutan rimba, hingga ke dasar laut. Saat bertemu dan menyatu, dia keluar dari dimensi ruang dan waktu. Tidak mengenali arah mata angin, atas, bawah, dan lain sebagainya. Dia dituntun oleh sang Jatidiri Dewa Ruci. Ikuti cuplikan tersebut. Itu diskripsi singkat cuplikan video ini. Lebih pada menitikberatkan pada jati diri.

Sumber bacaan:

ENSIKLOPEDI WAYANG, Dra. Sukatmi Susantina, M.Hum., Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum., Dra. Wiwien Widyawati R, M.Hum., Penerbit MEDIA ABADI Jl. Sambilebi Baru Lor No 5, Maguwoharjo – Jogyakarta, Sleman
Mewe ; Tomo

potret PEREMPUAN dalam budaya (female portrait in cultural)

Indonesia negara kepulauan, setiap pulau dihuni oleh berbagai penduduk beraneka suku, budaya, RAS, dan agama (multi cultural). Masing-masing suku juga memiliki ciri khas dan identitas tersendiri. Itulah ciri khas Indonesia. Budaya, seiring berjalannya waktu dan arus informasi dari berbagai arah, kini mengalami degradasi. Akankan Indonesia hanya memiliki budaya tunggal (mono cultural)?

Untuk mengidentifikasi dan memperjelas perspektif budaya tertentu, yang banyak memberikan informasi terkait dengan budaya yang memberikan makna untuk sebuah peristiwa. Banyak terjadi dalam kehidupan dengan kata lain, tidak cukup hanya mengidentifikasi apa yang terjadi saat itu.

Apa itu potret wanita dalam budaya (female portrain in cultural)?

Untuk mendapatkan gambar/potret (foto) perempuan dalam budaya. Potret ini, menggambarkan diri seorang perempuan dengan kostum dan latar belakang berbeda setidaknya bisa mewakili suku dan budaya yang ada di Indonesia yang hidup saling berdampingan (Jawa dan Bali). Dan, portrait photography adalah, jenis fotografi yang ditujukan untuk menangkap kepribadian seseorang atau sekelompok orang dengan menggunakan pencahayaan, latar belakang, dan pose yang efektif. Adalah merupakan bentuk komunikasi antar budaya.

Komunikasi budaya itu sendiri berkaitan dengan penggunaan bahasa dan sarana komunikasi lainnya tidak terkecuali sebuah foto. Untuk melaksanakan suatu kegiatan dan komitmen komunitas khusus mereka di dalam dan melalui penggunaan sumber daya simbolik. Sumber daya tersebut mencakup sarana verbal dan no-nverbal, serta aturan untuk menggunakan dan menafsirkannya.

Ada ada dua jenis komunikasi antarbudaya yang sangat mendasar yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal. Komunikasi verbal terdiri dari kata-kata yang digunakan untuk mengkomunikasikan pesan sedangkan komunikasi non-verbal adalah gerakan yang memberikan pesan yang diabadikan dalam sebuah foto.

Salam literasi…
Rahayu

MITOLOGI DEWI SRI

Mitologi Dewi Sri sangat kuat di Nusantara, ia dianggap bisa mengendalikan pangan di bumi. Sri menjadi Dewi Sri (Bahasa Jawa), Nyai Pohaci Sanghyang Asri (Bahasa Sunda), Sangiang Serri (Bugis), adalah dewi pertanian, dewi padi. Mitologi yang ada biasa dibarengi oleh berbagai ritual oleh kalangan petani, berawal dari saat pengolah sawah, menyebar benih, menanam, menyiangi hingga memanennya. Kini, seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan jaman, tingkat urbanisasi dan majunya teknologi, kesemuanya itu sudah sulit dijumpai. Taukah Anda bahwa di negara kita itu ada hari tani?

Hari Tani Nasional diperingati setiap tanggal 24. Indonesia, sebagai negara agraris, mata pencaharian adalah bertani. Sejak kapan sejarah hari tani? Mengutip situs resmi Tanihub, Hari Tani Nasional ini sendiri muncul karena, terciptanya Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang dasar pokok-pokok agraria atau UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria).

Pada tahun 1948, Ibu Kota negara Indonesia masih berkedudukan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat itu pula, terbentuk juga Panitia Agraria Yogya yang menggodok program program serta rancangan dari UUPA tersebut.

Seiring berjalannya waktu, 12 tahun setelah Panitia Agraria Yogya terbentuk program ini masih banyak mengalami dinamika serta banyak terhenti di pertengahan. Pada tahun 1951, Panitia Agraria Yogya berubah menjadi Panitia Agraria Jakarta dan terus berubah nama hingga menjadi Rancangan Sadjarwo pada tahun 1960. Tepat pada tahun 1960, Undang-Undang Pokok Agraria diterima oleh DPR-GR (Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong) dibawah pimpinan Haji Zainul Arifin, (economy.okezone.com; 9/27/2021)

Legenda Dewi Sri Dalam Mitologi Jawa

Indahnya budaya Nusantaraku, jauh lebih indah ketika kaum muda masih mau memelihara budayanya.

…Esuk-esuk mbak ayu yo podo nutu
Pari kang wis tuwa
Lesung alu wus cumawis
Pancen nyoto Bathari Sri dadi boga…

Sumber bacaan:
Wikipedia
https://economy.okezone.com  Jum’at 24 September 2021 15:18 WIB (9/28/2021)

Peringatan hari tenun nasional

Sandang (pakaian), yang kita pakai sekarang ini tidak luput dari sejarah panjang. Berawal dari tenun tradisional setiap daerah. Setiap daerah memiliki cara sendiri-sendiri untuk sebuah pakaian, sesuai dengan adat dan budayanya. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi mesin tenun, kini, itu semua mengalami pergeseran, orang lebih mencari produk-produk luar dibanding produk budaya sendiri.

Peringatan Hari Tenun Nasional (HTN). Pada tanggal 16 Agustus 2021 lalu, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Keputusan Presiden (Kepres) tentang ditentukannya Hari Tenun Nasional (HTN) yang akan diperingati setiap tanggal 7 September.

Adapun usaha untuk melahirkan peringatan Hari Tenun Nasional, terus dilakukan sejak 24 Februari 2019 lalu.

Sedangkan ditetapkannya Hari Tenun Nasional pada tanggal 7 September berkaitan dengan sejarah diresmikannya Sekolah Tenun pertama di Indonesia, pada tanggal 7 September tahun 1929 oleh dr. Soetomo di Surabaya. (by Phi Radio | Sep 5, 2021 | EkonomiEventNewsWirausaha 9/8/2021)

Sejak kapan manusia menenun? Adalah sejak manusia mengenal peradaban. Bahan tenun yang digunakan mulai dari serat kayu, serat kepompong ulat sutra, serat kapas dan lain-lain. Melalui proses pemintalan dari yang sederhana hingga dipintal dengan menggunakan mesin-mesin pemintal benang yang canggih seperti sekarang. Aneka hasil tenun berupa baju, celana, kain, kain selendang dan aksesoris wanita.

Ini mengingatkan saya akan sebuah lagu berikut dari youtube, yang dinyanyikan oleh Slim Whiteman dengan judul lagu Old Spinning Wheel.

sumber bacaan: (by Phi Radio | Sep 5, 2021 (EkonomiEventNewsWirausaha 9/8/2021).

Orang hidup itu butuh tantangan baru

Hidup bagaikan robot, pagi berangkat kerja, siang istirahat makan, sore hari pulang sampai rumah lelah dan tidur. Rutinitas seperti ini terasa sangat membosankan. Hidup seperti ini, terkesan biasa-biasa saja, tidak ada tantangan. Tantangan itu tidak harus kompetisi secara fisik, dan tidak harus merendahkan derajat kemanusiaan. Banyak yang dapat kita lakukan. Apa yang menantang dalam hidup ini? Carilah!

Pokoknya maju terus “kalah dan menang”, itu bukan urusan manusia. Hanya orang yang berani keluar dari rutinitas, berani jatuh bangun dalam usahanya untuk sebuah keberhasilan. Meskipun tolok ukur keberhasilan itu sangat beragam. Ada peribahasa “bagai katak di dalam tempurung”. Siapakah katak itu?

Jatuh? Segera bangun! Saat jatuh, mungkin tak seorangpun mau mendekat, apa lagi bila jatuhnya ditempat yang kotor. Tapi ingat saat sukses! Bahwa kesuksesan yang kita dapatkan, bukan milik kita sepenuhnya. Sukses yang kita raih, ada kontribusi orang lain. Biasanya kesuksesan orang seperti ini menimbulkan kesombongan. Anda ingat peribahasa ini? “Kacang lupa pada kulitnya”.

M e m a l u k a n !

Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUTRI) ke 76 Saat Pandemi COVID 19

Bulan Agustus, biasa disibukkan oleh aneka kegiatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Kesibukan dan persiapan kegiatan biasa kita jumpai setiap instansi pemerintah maupun swasta, dan lingkungan permukiman. Upacara peringatan HUT RI, gapura, umbul-umbul, bentangan bendera merah putih terpasang pada setiap jalan dan gang permukiman. Kegiatan biasa diahiri puncak acara dengan panggung gembira di berbagai pelosok tanah air. Bagaimana perayaan HUT RI di lingkungan kita dengan situasi pandemi COVID 19 yang belum juga mereda?

Menjaga Warisan Budaya Leluhur Nusantara

Menelusuri suku Baduy di Kanekes Banten, dipandu oleh kang Mursid. Mursid adalah putra dari kepala suku (Pu’un) Baduy. Ia tinggal di suku Baduy luar. Secara nasional, penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu “Pu’un”, (wikipedia 8/21/2021). Menjaga warisan budaya leluhur dan kearifan budaya lokal (local wisdom) merupakan bentuk kepedulian sosial di era yang serba teknologi, yang kini mulai terkikis oleh budaya luar.

Mengisi kemerdekaan pada ruang dan waktu. Mengapa harus dengan panggung gembira mewah dengan panggung, soundsistem dan biaya yang tidak sedikit. Ironisnya, setelah perayaan tersebut, sangat banyak waktu kosong yang tidak digunakan untuk mengisi kemerdekaan, sehinga semua membuat kesan hura-hura dan membuat kerumunan di tengah pandemi COVID 19. Buatlah peringatan itu secara sederhana tapi tanpa mengurangi kekhidmatan peringatan yang sangat bersejarah bagi Negara Republik Indonesia.

Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) 17 Agustus 2021 sangat berbeda dari peringatan HUT RI sebelumnya. Presiden RI Joko Widodo menggunakan pakaian adat budaya Lampung saat upacara HUT 17 Agustus 2021, adat Baduy saat menghadiri sidang tahunan MPR RI dan Pidato Kenegaraan Presiden dalam rangka HUT RI ke 76 di Komplek MPR/DPR, Jakarta, Senin (16/182021), Kompas.com – 16/08/2021. Hal ini dapat kita saksikan di media-media cetak, elektronik maupun media jejaring sosial.

Suku Baduy (Orang Kanekes) sangat unik, jujur, bersahaja, tulus, memiliki kepribadian dan budaya yang kuat. Suku tersebut adalah suku asli Indonesia yang mendiami wilayah di Kabupaten Lebak, Banten. Letaknya ada di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes.

Masyarakat Baduy terbagi menjadi dua, yaitu Baduy dalam dan Baduy luar. Untuk mencapai lokasi Baduy dalam, memerlukan stamina yang kuat, patuhi aturan (meskipun tidak ada tulisan). Stamina kuat, untuk berjalan di jalan setapak akan mampu menuruni lembah, naik bukit, menyeberang sungai (tidak ada kendaraan). Tidak ada kebisingan knalpot kendaraan, tidak ada suara soundsistem/toa, suara petasan, tidak ada pesawat radio/televisi. Waktu tempuh mencapai kurang lebih 7 jam berjalan kaki. Suku Baduy dalam sangat kuat memegang teguh adat budayanya, tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat luar. Sedangkan badui luar, jauh berbeda. Baduy luar banyak beriteraksi dengan berbagai orang luar (tamu wisata).

Berkunjung di tengah kehidupan masyarakat Baduy di Kanekes Banten.

Tercengang. Menyaksikan tatanan sosial kehidupan di tengah masyarakat Baduy, pikiranku melambung ke masa lalu. Ini adalah replika Nusantara lama.

Dengan pakaian adat telekung, ikat kepala atau disebut ‘koncer’ atau ‘roma’ berwarna hijau, pakaian adat baduy luar Baduy Panamping, celana hitam menutupi lutut dan sandal hijau. Semua itu diproduksi oleh masyarakat Baduy luar.

Kehidupan Baduy luar, sudah banyak berbaur dengan kehidupan masyarakat luar. Saat saya berkunjung ke sana, saya menyaksikan masyarakat Baduy kaum laki-laki sedang gotong royong membangun rumah panggung, ciri khas masyaratat Baduy. Istri di rumah mengasuh anak, dan menenun. Oleh kang Mursid, saya diantar untuk melihat lumbung padi. Lumbung padi terpisah dari rumah hunian masyarakat Baduy.

Ada dua jenis lumbung padi menurut kang Mursid. Lumbung padi yang mengikuti adat Baduy dalam dan baduy luar. Lumbung padi adat baduy dalam, setiap tiang kira-kira jarak satu meter dari tanah terdapat papan melingkar. Hal ini menghindari tikus yang akan masuk ke lumbung. Sedangkan lumbung padi yang mengikuti adat Baduy luar, seperti tampak pada gambar paling bawah.

Ini adalah suku Baduy luar, sehingga saya diijinkan untuk bebas mengambil foto. Gambaran di atas merupakan salah satu contoh adat budaya yang ada di negeri kita Indonesia. Masih banyak budaya-budaya lain yang tidak kalah uniknya.

Untuk memahami kehidupan sosial Baduy dalam maupun Baduy luar memerlukan waktu yang cukup lama.

Merdeka! Jaga kesatuan dan persatuan NKRI. Indonesia, merupakan negara yang multi kultural, jangan dikotori oleh budaya-budaya asing.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA 17 AGUSTUS 1945 – 17 AGUSTUS 2021.

Salam santun. Rahayu Indonesia ku

Dunia Serangga

Terbelenggu sejak dua tahun lalu karena COVID 19 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), mau hunting ke luar kota juga tidak bisa, karena pemberlakuan PPKM. Dengan pemberlakuan PPKM, bukan berarti tidak ada kegiatan, maka kuputuskan untuk berjemur di depan rumah. Saat berjemur diri di banyak menjumpai mahkluk kecil cantik, bagi sebagian orang mungkin itu hal yang biasa-biasa saja tapi bagi saya aneh.

Saptha Berillitis (Saptha Berylitis), (Metalmark Saptha Berylitis) adalah ngengat metalmark di keluarga Choreutidae. Ini dijelaskan oleh Edward Meyrick pada tahun 1910. Ditemukan di Jepang, Taiwan, dan Kepulauan Nicobar India. Wikipedia (Inggris)

Close-up Saptha beryllitis

Siapa yang tidak mengenal hewan belalang (Caelifera)? Hewan ini banyak dijumpai di semak belukar, bahkan di pepohonan yang tinggi. Hewan ini dapat menggagu dunia pertanian, bila populasinya sudah melampaui batas. Tapi, sebagian orang memanfaatkan hewan ini sebagai kuliner yang lezat.

Close-up Caelifera

Kupu. Saat menjadi ulat, tidak semua orang mau mendekat, tapi setelah melalui proses metamorfosa dan ketika menjadi seekor kupu-kupu banyak orang yang suka. Close-up kupu-kupu yang sedang menghisap madu.

Close-up kupu-kupu

Lalat, ketika orang menyaksikan lalat, pasti akan memalingkan atau mungkin mengusirnya. Yang menjadi pertanyaan adalah. Apa keuntungannya lalat di lingkungan kita? Lalat sangat membantu manusia, tapi tidak semua lalat menguntungkan. Ada lalat buah yang merugikan petani buah-buahan. Lalat, membantu proses pembusukan sampah atau mengurai bahan-bahan organik yang bermanfaat. Tapi tidak semua orang mau. Berikut ini lalat hijau.

Close-up Lalat Hijau (Lucilia sericata)

Lebah madu (Apis), serangga ini selain menghasilkan madu, juga sangat membantu para petani buah-buahan. Lebah tersebut adalah serangga penghasil madu dari genus apis. Selain madu, lebah juga menghasilkan serbuk sari (polen), royal jelly, propolis, lilin lebah dan racun lebah. Jenis-jenis lebah madu cukup banyak, namun hanya beberapa diantaranya yang bisa dibudidayakan. (sumber: Dinas Lingkungan Hidup Yogyakarta)

Close-up Lebah madu (Apis)

Laba-laba (spider). Banyak sekali jenisnya dan cara hidupnyapun sangat beragam. Yang sering dan banyak kita jumpai adalah laba-laba yang membuat jaring perangkap mangsanya. Berikut adalah jenis laba-laba yang ternyata sulit diambil gambarnya. Karena dia sangat gesit.

Anda suka menanam? Apapun tanamannya. Tapi terganggu bahkan tanamannya sore tampak subur, keesokan hari daunya rusak bahkan habis dimakan oleh hewan ini. Siput, tubunya menyerupai bekicot, tapi siput jenis ini lebih kecil dan cangkangnya transparan. Hewan ini sangat mengganggu tanaman.

Close-up Siput

Banyak sekali hwan-hewan kecil dalam skala mikro di sekitar kita, bahkan banyak juga yang belum teridentifikasi.

Mangambil keuntungan saat pandemi COVID 19 dan saat PPKM. Dengan cara seperti ini, saya mendapatkan oksigen dan vitamin D secara gartis, tidak perlu antri di apotik.

Salam sehat

Berpacu di era teknologi digital

Kehidupan di era teknologi seakan memacu diri diberbagai bidang untuk menjadi terdepan, tertinggi dan menjadi populer. Popularitas yang didapat dengan cara memaksakan diri, bukan yang semestinya. Untuk apa semua itu kalau harus menjatuhkan orang lain, memotong jalan hidup orang lain, menyikut, bahkan menginjak-injak derajat kemanusiaan? Gak ada cara lain?

Mengapa harus berebut dengan cara yang tidak sehat? Era media teknologi digital memungkinkan kita bersaing dengan sehat dan tidak harus dengan cara yang tidak sehat. Banyak media yang dapat mewadahi ide dan gagasn kita. Media telah menjadi sarana utama bagi kebanyakan dari kita untuk mengalami dan belajar tentang berbagai aspek dunia di sekitar kita. Bahkan, ketika kita tidak belajar secara langsung dari media, kita belajar dari orang lain yang mungkin memperoleh ide-ide tentang dunia dari media.

Ide itu sangat banyak dan dapat kita jumpai diberbagai media cetak maupun media elektronik digital di jejaring sosial. Contoh kongkritnya ketika kita googling. Dengan memasukkan kata kunci, dalam hitungan detik, kita akan mendapatkan ribuan artikel, bahkan jutaan. Yang tidak ada adalah ide Anda. Mana karya Anda?

Orang kreatif itu tidak pernah kehilangan akal untuk maju! Banyak media yang dapat menyalurkan ide dan gagasan, baik media cetak maupun non cetak, media jejaring sosial. Mungkin saja ide yang dituang dalam artikel Anda dapat menginspirasi orang lain.

Kenapa harus bersaing dengan cara yang tidak sehat kalau hanya untuk merendahkan orang lain? Lebih baik memperbaiki diri agar lebih baik dari kemaren.

Sumber : Idi Subandy Ibrahim & Bachruddin Ali Ahmad, 2014. “Komunikasi & Komodifikasi” Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Jln Plaju No 10, Jakarta 10230, Telpon : 021 – 31926979, 3920114